© www.jpnn.com

Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) telah digelar pada Minggu (27/03) kemarin di Renon, Denpasar, Bali. Topik yang dibahas adalah rencana reklamasi Teluk Benoa yang tengah gencanr-gencarnya diperjuangkan masyarakat Bali.

Pro rencana reklamasi diungkapkan salah satu peserta debat, Ranten, warga Tanjung Benoa. Ia menilai bahwa revitalisasi perlu dilakukan sebagai upaya pengembangan wisata dan PAD Bali.

“Pernah gak pada saat air surut ke sana? Itu jelas tidak bagus. Bau. Apa yang ditemui sampah, pembuangan limbah. Makanya Teluk Benoa harus direvitalisasi,” ungkapnya dalam PB3AS.

Penolakan tersebut, ujarnya yang merupakan warga asli Tanjung Benoa, hanya dilakukan oleh beberapa orang. “Itu bisa dicek hanya seberapa yang menolak. Saya sengaja meninggalkan pekerjaan saya. Ini Teluk Benoa harus direvitalisasi,” ungkapnya.

Sementara peserta lain, Mangku Wayan Suteja merespon pernyataan Ranten. Ia merupakan salah satu peserta yang kontra terhadap reklamasi Teluk Benoa.

Ia menyayangkan hutan mangrove yang harus dipotong. Selain itu, sampah-sampah juga semakin tidak terkontrol.

“Kalau kita sayang tanaman, kita pelihara, bukannya direklamasi. Saya dengan teman-teman menanam mangrove. Itulah bukti nyata kami menjaga kawasan Teluk Benoa,” imbuhnya, seperti dikutip dari Tribun Bali.

Menurutnya, janganlah Bali yang telah dikenal dengan keunikan dan nilai spiritualnya, mampu dibeli dengan pembangunan dan akomodasinya. (tri/nei)