Sesuai rilis data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, pada bulan Oktober 2015 Bali mengalami inflasi negatif sebesar -0,64 persen, atau dengan kata lain Bali mengalami deflasi.
Dengan pencapaian deflasi tersebut, menunjukan pertumbuhan perekonomian di Bali cukup baik. “inflasi kita negatif (-0,64 persen), deflasi. Angka ini terendah dalam 19 tahun terakhir, luar biasa,” kata Kepala BPS Provinsi Bali, Panusunan Siregar, seperti dilansir dari kompas.com, Senin (02/11).
Menurut Panusunan bahwa pencapain tersebut didukung oleh berbagai faktor, salah satunya adalah upaya pemerintah daerah dalam meningkatkan perekonomian Bali dan menjadi mandiri pangan.
“Ini upaya pemerintah daerah yang sudah bekerja keras. Dan dukungan media juga,” tuturnya.
Dirinya juga menambahkan bahwa Bali memiliki banyak potensi yang masih terus bisa dimanfaatkan”Pertaniannya luar biasa, pariwisata, apalagi kalau ada pelabuhan internasional,”ujarnya.
Data BPS Bali, selain Provinsi Bali yang menunjukkan deflasi, juga sampel kota, yaitu Denpasar dan Singaraja. Jika Bali mencapai angka -0,64 persen, maka Denpasar -0,56 persen dan Singaraja -1,05 persen.
Andil komoditas yang mendorong deflasi pada Oktober 2015 meliputi tongkol pandang, bahan bakar rumah, tarif listrik, kangkung, semangka, pisang, angkutan udara, cabai merah, cabai rawit dan daging ayam ras. (kom/end)









