© sundaribalitour.blogspot.com

Peristiwa letusan Gunung Agung pada tahun 1963 di Pulau Bali, Indonesia disebut-sebut sebagai letusan besar. Pasalnya, letusan tersebut terjadi setelah Gunung Agung mengalami tidur panjang selama 120 tahun.

Catatan letusan awal Gunung tertinggi di Pulau Dewata tersebut dimulai sejak tahun 1808. Padawaktu itu letusan disertai dengan uap dan abu vulkanik.

Letusan pada tahun 1963 merupakan letusan terakhir yang terjadi. Melalui buku yang dikarang oleh usumadinata pada tahun 1979, letusan Gunung Agung terjadi pada 16-18 Februari 1963. Korban tercatat meninggal sebanyak 1.148 orang dan 296 orang luka.

Tipe letusannya bersifat eksplosif, yaitu dengan melontarkan batuan pijar, pecahan lava, hujan piroklastik dan abu, serta efusif, yaitu mengeluarkan aliran awan panas, dan aliran lava. (Sutukno B., 1996).

Data mencatat, kebanyakan korban meninggal dan luka diakibatkan oleh awan panas, piroklastika dan lahar yang dikeluarkan Gunung Agung.

Berdasarkan keterangan Budayawan Bali, Cok Sawitri yang berhasil mewancarai petugas yang mengevakuasi korban di Badeg Dukuh dan Sogra, ada cerita menarik. Petugas tersebut mengatakan bahwa di Pura daerah tersebut ada upacara penyambutan, semacam odalan, seperti dikutip dari Serunik.

Para korban ditemukan dalam posisi duduk menabuh gamelan. Kepala dukuh duduk dengan genta masih di tangan. Dia berdoa. Ada yang bilang mereka sengaja menunggu letusan dan tengah mengiringi perjalanan Bathara Gunung Agung menuju samudra.

Begitu juga juru kunci Gunung Agung tidak mau mengungi. Bahkan hampir semua lelaki dewasa dari beberapa desa di Bali ‘menyambut’ lahar tumpahan gunung. (Rnk/nei)