Robot © www.bedahtekno.com

Dengan penemuan tangan robotnya, Tawan berhasil menyita perhatian publik, pejabat-pejabat tinggi, hingga beberapa perusahaan profit. Pria yang memiliki tiga putri itu pun mengaku kelelahan.

“Dengan banyaknya kunjungan ke sini, tenaga saya agak terkuras. Nggak enak kalau nggak menemani mereka (pengunjung). Istirahat agak kurang, kerjaan juga terbengkalai,” ujarnya kepada Tribunbali, Jumat (22/1) di bengkel kerjanya di Karangasem, Bali.

Selain dari media dan pejabat, ayah dari I Made Asto Bintang Putra ini menjelaskan bahwa para akademisi dari Universitas Gajah Mada (UGM) dan Surabaya juga datang untuk menanyakan mengenai tangan robot buatannya.

Bebrapa perusahaan profit banyak yang menawar hasil rangkaian Tawan dengan harga yuang cukup tinggi. Sebuah perusahaan elektronik menawarnya dengan harga Rp2 miliar. Namun Tawan mengaku tidak akan menjualnya kepada perusahaan komersil.

“Sudah berapa perusahaan yang hubungi saya, cuma ditolak. Alat ini untuk masyarakat yang tak mampu dan membutuhkan. Bukan untuk dijual,” terangnya.

Dia berharap dengan adanya tangan robot buatannya tersebut masyarakat yang memiliki kekurangan fisik dapat terbantu. Sehingga mereka dapat beraktivitas seperti biasa dan mampu mencari nafkah untuk anak istrinya.

Tawan meminta agar ada hak paten dari pemerintah daerah agar masyarakat yang benar-benar membutuhkan bisa menikmati hasilnya.

(tri/nei)