Tidak Perlu Khawatir Tsunami, 32 Hotel di Bali Siaga Bencana balitoday
© www.inverse.com

Dengan tingginya resiko bencana terutama tsunami di wilayah Bali, Pemprov berencana menambah 20 sirene. Sirene tersebut difungsikan sebagai mendeteksi bencana dan peringatan datangnya bencana.

Menurut keterangan Kepala UPT. Pusat Pengendalian Informasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) BPBD Provinsi Bali I Gede Made Jaya Serataberana, satu unit TWES dapat bernilai sekitar Rp1 miliar lebih.

Jika Bali akan mengajukan 10 titik baru, maka anggaran dana yang diperlukan mencapai anggaran Rp10 miliar.

“Kami tidak tahu angka pastinya karena pengadaannya oleh BMKG pusat. Mungkin sekitar Rp1 miliar,” jelasnya.

Terkait enam sirene yang dihibahkan ke Pemprov Bali, Made Jaya mengakui pemerintah wajib memelihara dan membayar satelitnya dengan biaya mencapai Rp1,2 miliar. Sehingga dimungkinkan biaya perawatannya tidak sedikit.

Untuk pengoperasian peralatan sirene tsunami, UPT, Pusdalops PB BPBD Provinsi Bali nantinya akan menekan tombol manual setelah adanya informasi dari BMKG. Pusat pengendalian operasi TEWS UPT. Pusdalops PB BPBD Provinsi Bali akan menekan tombol untuk membunyikan sirene di titik gempa.

“Kalau gempa terjadi di selatan, maka gelombang akan mencapai daratan pantai paling selatan sekitar 30-40 menit. Dari 30-40 menit itu, sekitar lima menit waktu yang dibutuhkan BMKG untuk mendeteksi gempa dan mengecek pusat gempa dan berapa besar gempa. Sedangkan dari Pusdalops ke daerah rawan antara 1-3 menit. Jadi, itu sudah delapan menit,” imbuhnya, seperti dikutip dari Tribun Bali.

Apabila Pusdalops terlambat menekan dan membunyikan sirine saat adanya potensi tsunami, sirine tetap dapat dibunyikan langsung oleh BMKG pusat. (tri/nei)