Tangan Robot © www.robotshop.com

Gemparnya media Indonesia karena kisah manusia robot asal Karangasem Bali ini telah membuat reaksi luar biasa terhadap beberapa pihak pecinta teknologi. Banyak yang mengaku bangga dengan kreasi anak negeri ini, namun ada juga yang meragukan.

Salah satu pengguna Facebook dengan akun bernama M Asad Abdurrahman, mengaku meragukan robot buatan Tawan adalah palsu dan tidka masuk akal.

Dosen Teknik Mesin Fakultas teknik Universitas Udayana, I Wayan Widiada, ST, MSc, PhD kemudian menaggapi hal tersebut dengan memberikan analisis awalnya mengeani robot buatan Tawan in, seperti dilansir Tribunbali.

Berikut paparannya.

Oleh : I Wayan Widiada, ST, MSc, PhD

Dosen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Udayana

Saya sempat memperhatikan situasi bengkel tempat Sutawan bekerja, berikut lengan robot yang kini menjadi sorotan berbagai kalangan itu, Jumat (22/1/2016).

Berdasarkan pengamatan saya, lengan robot yang dibuat oleh Sutawan tersebut, jika dilihat dari prinsip kerja robot, hal tersebut masuk akal. Bahkan hal seperti ini adalah sesuatu yang lumrah dalam ilmu robotik.

Konsep teknologi electroencephalography (EEG) ini sudah umum sebenarnya. Mungkin orang awam belum biasa melihat dan mengetahui teknologi ini.Meski desain lengan robot ini sangat sederhana karena menggunakan barang-barang bekas, namun dari strukturnya sudah memenuhi prinsip kerja robot.

Komponen-komponen yang digunakan Sutawan dalam rangkaian lengan robotnya mencukupi dalam kaidah robotik. Ada ban kepala dengan komponen eeg tersebut, fungsinya untuk mendeteksi sinyal elektris di otak lalu kemudian diubah menjadi bentuk gelombang yang akan dikirim ke micro controller.

Ada kok micro controllernya, meski agak tertutup, tapi saya sempat lihat.

Dari micro controller ini akan dikirim sinyal menuju motor. Di sanalah output yang dihasilkan berupa respon, yakni gerakan atau torsi.

Ada dua motor penggerak di bagian persendian lengan robot itu. Namun, ada juga yang mengganjal. Hal ini terkait glove atau sarung tangan yang juga dikenakan Sutawan dalam rangkaian lengan robotnya itu, namun terpisah.

Ada kabel-kabel pada glove tersebut, tapi ia belum mengetahui betul apa fungsinya.

Saya sangsi justru pada glove ini, selain karena terpisah, mengapa hanya untuk tiga jari di tengah saja. Dan, kata orang-orang sekitar, tiga jari di tangan kiri ini mampu mengangkat beban hingga 20 kg.

Logikanya, kalau mengalami kelumpuhan, bagaimana tiga jari ini bisa mengangkat beban sebesar itu.

Coba saja kita lemaskan jari kita, pasti jari akan menolak beban yang besar, butuh daya yang besar untuk melawan. Mengapa hanya untuk tiga jari saja, kok tidak keseluruhan?

Yang membuat saya penasaran adalah kabar bahwa alat tersebut tidak bisa digunakan oleh orang lain, selain Sutawan. Jika berupa sensor, seharusnya siapa pun bisa menggunakannya.

Kalau dari sensor, seharusnya siapa pun bisa pakai, tidak masalah.Yang perlu diketahui bagaimana sistem programnya, apa yang menjadi setting command-nya.

Saya akan kembali mengunjungi rumah Sutawan,  Sabtu (23/1/2016) untuk mencoba dan menggali kembali secara langsung informasi tentang lengan robot itu. Karena saya belum lihat langsung cara kerja alat itu dan mencobanya.

Dari pengamatan saya, prinsip kerja lengan robot milik Sutawan adalah kreasi yang masuk akal, tetapi harus ada pengujian lebih mendalam.

Pengujian ini bertujuan untuk menganalisa sistem kerja dan hal lainnya. Perlu pengujian di kampus untuk melihat seberapa tingkat eror yang dihasilkan alat ini.

(tri/nei)