Truk parkir © www.kalteng.blogspot.com

Putusnya jembatan vital Tukadaya pada Sabtu kemarin (23/1), membuat hampir semua pihak yang berkepentingan dari Denpasar maupun Gilimanuk menjadi kelabakan memilih jalur. Pasalnya, mereka mau tidak mau harus melewati jalan alternatif memutar lan terjal di Kabupaten Buleleng.

Hal inilah yang dirasakan oleh belasan supir truk dengan tujuan Denpasar dari Surabaya. Mereka memilih untuk bertahan di Negara lantaran tak bersahabatnya jalur alternatif menuju Denpasar tersebut.

Melansir Tribunbali, seluruh truk tersebut memilih untuk parkir berjejer di badan Jalan Sudirman di Kota Negara, Bali, Senin (25/1). Alasan terberat mereka adalah faktor ongkos transportasi yang membengkak jika harus melewati Kebupaten Buleleng.

“Sudah dua hari saya bertahan di sini mas, sampai nggak mandi-mandi. Mau bagaimana lagi, lewat Buleleng sudah jelas dua kali lipat ongkosnya. Belum lagi kena potongan di sana-sini,” ujar Selamet (59), salah satu sopir truk fuso, Senin (25/1).

Dari jasa pengiriman perusahaan, Selamet diberi upah Rp5 juta, yang nantinya akan dibagi dua dengan bosnya atau pemilik kendaraan. Dari upahnya dia harus membayar ongkos solar Rp700 ribu dan Rp345 ribu untuk biaya penyeberangan di Pelabuhan Penyeberangan Ketapang ((kendaraan golongan VI B).

Jika harus melalui jalur Buleleng, otomatis ongkos solar akan menjadi dua kali lipat.

“Dapat kotor Rp 2.500.000. Potong beli solar, penyeberangan dan makan saja sudah habis setengahnya dan itu belum baliknya. Juga masih dipotong biaya klem Jembatan Timbang (JT) di Probolinggo Rp 50.000 dan di Cekik Rp 20.000,” keluh warga asal Tuban ini.

“Tapi mau bagaimana lagi, namanya kerja di jalan, ya harus sama-sama ngerti. Kalau yang di JT Cekik sini cuma setor Rp 20.000 biar dikasi jalan dan nggak ditilang,”

Kasat Lantas Polres Jembrana, AKP I Gede Sumadra Kerthiawan selain membenarkan adanya keberatan dari para sopir truk tersebut, menghimbau agar para sopir truk untuk lebih bersabar dan memikirkan jalan terbaik bagi pendistribusian muatannya

“Memang jalur di Buleleng itu agak curam karena banyak tanjakan sempitnya, jadi tidak bisa dilalui oleh truk-truk bermuatan berat. Kami imbau sopir agar terus berkoordinasi dengan pihak pemilik muatan untuk solusi terbaiknya,” tuturnya.

(tri/nei)