Ilustrasi ©vivanews.co.id

Tiga orang ditetapkan sebagai tersangka dalam dugaan kasus korupsi bantuan sosial beasiswa Perguruan Tinggi di perguruan tinggi di Jembrana, yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Teknik Jembrana (STITNA) dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jembrana (STIKES).

Dalam kasus ini, tercatat negara mengalami kerugian sebanyak Rp2.328.000.000. Modus praktik korupsi ini dilakukan dengan menyalahgunakan penyaluran beasiswa yang seharusnya diberikan kepada mahasiswa berprestasi.

Dalam pelaksanaannya, beasiswa ini justru tidak memberikan mahasiswa dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi beasiswa. Sebaliknya, mahasiswa dengan IPK di bawah rata-rata justru mendapatkan bantuan.

Sebagai informasi, dalam PerBup 04, ada peraturan yang menyatakan penerima beasiswa harus memiliki IPK tinggi.

Aspidsus Kejati Bali, Erna didampingi Kasipenkum Humas Ashari Kurniawan, mengungkapkan bahwa telah terjadi penyalahgunaan dana bansos, yang termasuk dalam tindak pidana korupsi (tipikor).

“Ada mahasiswa yang tidak berprestasi, namun masuk sebagai pemohon dari STITNA/STITKES ini sebagai mahasiswa berprestasi. Selain itu, tidak melakukan pendataan dan verifikasi. “Walau tidak sesuai dengan Perbup 04, namun disetujui oleh bupati yang juga menjadi ketua yayasan,” ujar Erna.

Dua dari tiga tersangka adalah mantan Kadisdikpora, yaitu Anak Agung Gede Putra Yasa yang menjabat tahun 2009-2010 dan Nyoman Suryadi yang menjabat pada tahun 2008-2009. Mereka saat ini ditahan hingga 20 hari ke depan.

Atas kasus ini, tersangka dijerat dengan pasal 2 dan pasal 3 UU Tipikor. Kini, kedua tersangka ditahan di Lapas Kelas II A Denpasar di Kerobokan. (blp/fal)