Sembako © www.liputanaceh.com

Pasca putusnya jembatan Tukadaya di Jembrana Bali, ratusan ton sembako tujuan DenpasaR hingga Lombok tertahan di hingga Rabu kemarin (27/1). Sembako yang diangkut ratusan truk tronton ini masih bertahan di Jembatan Timbang (JT) Cekik, Kelurahan Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana.

Sudah empat hari truk-truk tersebut memarkir kendaraannya di areal parkir Jembatan Timbang Cekik. Namun, beberapa truk juga terlihat terpaksa memecah muatan mereka agar beban muatan bisa dikurangi sehingga mereka bisa melanjutkan perjalanan ke Denpasar dan sekitarnya melalui jalur Singaraja.

Jika hal ini terus terjadi, dikhawatirkan perekonomian Denpasar hingga Lombok akan lumpuh. Selain itu, kapasitas jembatan timbang yang hanya 100 kendaraan besar sudah overload. Hal ini disampaikan oleh Kepala UPT Jembatan Timbang Cekik I Wayan Ariana, Rabu (27/1).

“Kalau ditampung disini, kondisi dilapangan sudah tidak memungkinkan sedangkan daya tampung ini hanya 100 truk,” ujarnya kepada Suaradewata.

Dari datanya, hingga rabu (27/1) hari ini red- terdapat lebih dari 11 ton tepung terigu, 82 ton lebih gula pasir, 79 ton lebih bawang, 12 ton minyak goreng dan lebih dari 272 ton beras yang diangkut dengan kendaraan berat tertahan di Jembatan Timbang Gilimanuk.

“Jika sembako ini terus tertahan di gilimanuk dikhawatirkan prekonomian Denpasar hingga Lombok akan lumpuh dan harga sembako akan meningkat,” tambahnya.

Ari, seorang supir truk yang dimintai keterangan mengaku, dirinya bersama puluhan teman lainnya sudah tertahan selama 4 hari di jembatan timbang ini. Biaya makan dan lainnya pun membengkak. Bagi beberapa sopir truk yang takut muatannya busuk atau rusak, memilih untuk membagi muatannya agar bisa melanjutkan perjalanan melalui jalur Singaraja.

‘Saya merugi ni pak. Saya mengangkut sembako dari Jawa ke Bangli dan Klungkung diberikan biaya pengiriman oleh perusahaan sebesar Rp 1.200.000 sampai Rp 1.500.000 rupiah. Karena tertahan di tempat ini, kini biaya pengiriman yang seharusnya cukup untuk pulang pergi malah habis untuk makan dan lainnya pak. Pertama ya pikiran, makan dan lainnya. Kalau dihitung norok Rp300 ribu pak. Belum lagi BBM norok 50 liter,” terangnya.

(sua/nei)