Hotel Bali © www.javatrans.com

Persaingan hotel-hotel di Bali menjadi semakin ketat. Hal ini disebabkan semakin banyaknya hotel yang ada di Bali. dengan kenyataan ini, hotel-hotel tersebut banyak termotivasi untuk memperbaiki pelayanannya, termasuk memberikan harga murah.

Tjokorda Gde Putra Sukawati, anggota dewan penasehat Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali mengatakan bahwa perbaikan pelayanan dan kualitas hotel adalah hal yang bagus, namun di lapangan ternyata banyak pihak yang tidak melakukan hal tersebut.

“Untuk memenangkan persaingan, hotel-hotel di Bali ada yang meningkatkan pelayanannya kepada pengunjung, itu bagus. Namun, kenyataannya lebih banyak yang menurunkan harga untuk merebut hati para wisatawan lokal maupun internasional. Ini yang membahayakan, iklim bisnisnya,” ungkapnya kepada Kompastravel, Rabu (20/1) melalui telepon.

Pertumbuhan wisatawan Bali yang meningkat sebesar 5 persen, tidak diimbangi dengan peningkatan kualitas hotel-hotel di Bali.

“Pertumbuhan wisatawan tahun kemarin (2015) memang hanya 5 persen, tidak sebanding dengan pembangunan hotel-hotelnya,” ungkap Tjokorda.

Tjokorda pun menambahkan, dengan tidak seimbangnya peningkatan tersebut menyebabkan beberapa penginapan memberikan harga yang murah. Bahkan, harga kamar paling fantastis yang pernah ditemuinya adalah tarif di bawah Rp 100.000 untuk hotel sekelas bintang 3.

Pihaknya saat ini akan meminta kepada kepada Pemerintah Provinsi Bali untuk mengeluarkan moratorium kembali kepada para pemilik hotel yang ingin membangun. Selain hotel, pihaknya juga akan meminta dibangunnya fasilitas bandara yang memadai.

“Kita akan meminta pemerintah mengeluarkan moratorium kembali, dan meminta pembangunan infrastruktur secara serius di tahun 2016 terutama landasan pesawat yang menghambat jumlah wisatawan datang ke Bali. Untuk hotel-hotel kita imbau ada kesepakatan untuk tidak menurunkan harga,” tutupnya.

(kom/nei)