Tepatnya di Davos

pada akhir 2014 lalu, lembaga non-pemerintah Oxfam, lewat rilisan kajiannya mengingatkan dunia tentang ancaman ketimpangan global.  Oxfam melaporkan, sejak tahun 2009, 1% orang terkaya dunia menguasai 44% perekonomian dunia, kemudian meningkat menjadi 48% di 2014 lalu. Oxfam memperkirakan jumlah itu akan bertambah, dimana 1% orang terkaya dunia akan menguasai 50% perekonomian dunia 5 tahun mendatang.

Sedangkan 52% sisanya, hampir seluruhnya atau sekitar 64% dikuasai oleh seperlima orang terkaya dunia. Hanya 5,5% saja dikuasai oleh 80% penduduk dunia lainnya.  Oxfam menyimpulkan, rasio perbandingan kekayaan orang terkaya dan penduduk lainnya menjadi 1 per 700. Artinya jumlah kekayaan 1 orang terkaya dunia, sama dengan kekayaan yang dimiliki oleh 700 penduduk lainnya. data ketimpangan antara penduduk kaya dan miskin itu, Indonesia pun termasuk di dalamnya. BPS) lewat Laporan Sosial Ekonomi pada Februari 2015 lalu melaporkan, secara kumulatif ekonomi Indonesia 2014 tumbuh 5,01% turun jika dibandingkan dengan tahun 2013 yang tumbuh 5,38%. Bersamaan dengan pertumbuhan PDB itu, ternayata tidak dibarengi dengan distribusi kekayaan secara merata. Hal itu ditandai dengan gini rasio yang hampir mencapai 0,50.

Lembaga Analisis Politik Indonesia (LAPI) Melaporkan, Bahwa kesenjangan distribusi pendapatan ditengah pertumbuhan ekonomi itu terjadi secara statistic dan realitas. Dimana 43 orang terkaya (0,02% dari total 252.164,8 ribu penduduk Indonesia) memiliki kekayaan setara 25% dari PDB. Sedangkan 40 orang terkaya memiliki kekayaan setara 10,2% terhadap PDB (setara dengan kekayaan 60 juta orang miskin di Indonesia). Data tersebut memberikan Informasi pertumbuhan ekonomi Indonesia ternyata tidak berkulaitas, Sebab  jurang ketimpangan yang semakin melebar, dimana pertumbuhan itu hanya dinikmati oleh kalangan atas.  Gini rasio tidak sekedar menggambarkan kesenjangan pendapatan antara si kaya dan miskin sebagai konsekuensi dari tidak terdistribusinya kekayaan ekonomi secara merata. lembaga Analisa Politik Indonesia (LAPI) dengan riset sendiri dan menghimpun data dari berbagai instansi menyatakan, bahwa pencetakan lapangan kerja baru itu tidak sesuai dengan kebutuhan. pada periode November-Desember 2014 yang berlanjut hingga Februari 2015. Dari posisi itu LAPI mencatat  Inflasi mencapai 8,36% hingga menyeret kemiskinan hampir 1%.  

BPS dalam melaporkan data kemiskinan, perhitungannya tidak objektif. perhitungan ini juga dikuatkan dengan tingkat pengangguran Indonesia yang masih tinggi yakni 7,2 juta dan pengangguran terbuka 5,94%. Menurut (PBB) lewat Global Employment and social outloc 2015 yang diterbitkan di Washington pada 13 Februari 2015 lalu mneyebut, saat ini tingkat pengagguran dunia sebanyak 201 juta, dan 5 tahun kedepan akan meningkat. Selama periode 2015-2019, pengangguran diperkirakan naik menjadi 212 juta.  Dalam prediksi World Bank lewat Global Economc Prospect (GEP) yang diterbitkan di Washington 12 Februari 2015 menyebut, ekonomi global diperkirakan akan tumbuh sebesar 3 persen tahun ini, 3,3 persen di tahun 2016 dan 3,2 persen di tahun 2017. Catatan pentingnya, sebelum ditetapkan tumbuh 3% ekonomi dunia 2015 telah direvisi sebanyak 2 kali. Dari 3,6%, 3,3% baru menjadi 3%.  Revisi tersebut bersandar pada prediksi pemulihan ekonomi di 2015. akan berjalan lambat disebabkan beberapa hal, diantaranya: (1) Aktifitas perdagangan global yang hanya tumbuh 4% padahal sebelum krisis 2008-2009 mencapai 7%. (2) kenaikan suku bunga dibeberapa negara maju dalam waktu berbeda yang akan menekan dinamika lalu lintas modal internasional dalam tensi negative tinggi. (3) seberapa jauh trend penurunan harga minyak dunia berlangsung hingga mengancam finansial negara produsen. (4) berapa lama berlangsung periode stagnasi dan deflasi yang saat ini mengantarkan Jepang dan Uni Eropa ke jurang resesi. Prediksi ini dijawab dalam prediksi PBB lewat Global Employment and social outlock 2015  menyatakanselama 2 tahun kedepan pertumbuhan ekonomi global akan berjalan moderat. Keadaan itu memberikan dampak ganda. Salah satunya adalah pengurangan jumlah pengangguran yang berjalan lambat.

keterlambatan perekonomian sebuah negara dalam mengurangi jumlah pengangguran, berkaitan erat dengan kemiskinan dan ketimpangan. Sedangkan tingginya tingkat pengangguran, kemiskinan dan ketimpangan merupakan awal dari terputusnya kepercayaan rakyat terhadap pemerintah. laporan terbaru PBB memprediksikan, sumber penyulut sumbuh keresahan social adalah generasi muda dengan usia 15-24 tahun disebabkan mereka memiliki keinginan 3 kali lebih tinggi untuk menganggur dari pada orang dewasa.  akhir tahun 2014 tingkat pengangguran muda tercatat hampir 13%. di dunia ini terdapat 319 juta pekerja atau 1 dari 10, memiliki pendapatan di bawah US$ 1,25 dan hidup dalam kemiskinan ekstrim. dari laporanILO menyoroti fakta bahwa 3/4 pekerja dunia termasuk rentan.Analisa diatas memberikan informasi bahwa, tingkat ketimpangan didunia  yang saat ini makin menjadi diakibatkan oleh 2 hal.Pertama, tidak terdistribusinya kekayaan secara merata hingga masih memelihara tingginya tingkat pengangguran, pekerja dengan upah yang tidak layak dan kemiskinan.

 Kedua, penyebab yang tak kalah menarik, adalah ketimpangan yang juga disebabkan karena 3 kali lebih tinggi keinginan menganggur genarasi mudah dari orang dewasa.Dalam menyoroti kedua penyebab itu, kami dari LAPI berpendapat, pertama, untuk masalah tidak terdistribusinya kekayaan secara merata. Dalam kegiatan ekonomi publik, terdapat 4 pelaku utama. Diantaranya, eksekutif, legislative, masyarakat dan korporasi. Untuk mencapai keseimbangan dalam mengatur kegiatan perekonomian sebuah negara secara structural, mulai dari pengelolaan sumber daya alam, produksi, distribusi dan penentuan harga ditekankan keterlibatan 4 pelaku utama tersebut.Jika salah satu diantara 4 pelaku itu tidak sertakan, maka akan muncul kesenjangan dan ketimpangan. Kedua, untuk  masalah tingginya keinginan menganggur generasi muda. ini lebih disebabkan oleh kultur yang berlaku sebagai system social akibat penerapan Al-fikru Al-Asasi Tubna ‘Alaihi Afkar(sebuah pemikiran mendasar yang akan melahirkan berbagai macam pemikiran cabang). Sedarhananya, disebut sebagai penerapan “Ideologi”. Tingginya tingkat ingin menganggur dikalangan generasi muda, maknanya ganda. Namun bisa dirangkumkan dalam satu pemahaman yang disebut sebagai “Hedonisme” (hidup hanya untuk mengejar hawa nafsu dunia belaka). Dan Hedonisme merupakan kultur yang berlaku sebagai sistem social akibat dari penerapan sebuah ideology.

 Jika saat ini generasi muda memiliki keinginan 3 kali lebih tinggi menganggur dari orang dewasa, maka ada yang salah dengan ideologi yang diterapkan. Pastinya, hal itu terjadi ditengah dunia sedang menerapkan 2 ideologi, Corporasi Capitalisme (Kapitalisme korporasi/Neoliberalisme) dan State Capitalisme ( Kapitalisme BUMN/ Sosialisme modern).Semoga saja ini menjadi perhatian penting bagi dunia. Terkhusus untuk masalah generasi muda di usia produktif 15-24 tahun yang 3 kali lebih tinggi memiliki keinginan menganggur dari orang dewasa, sehingga divonis sebagai sumber penyulut sumbuh keresahan social dunia.