© tempo.co

Dalam mengisi parade ogoh-ogoh yang akan digelar jelang Hari Nyepi pada Selasa (08/03) malam, ada sebagian masyarakat bagi yang membuat ogoh-ogohnya menyimbolkan penolaka terhadap rencana reklamasi Teluk Benoa oleh PT. Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI).

Salah seorang warga Sekaa Teruna (ST) Tenaya Kusuma di Banjar Buagan, Desa Pemecutan Kelod, Kecamatan Denpasar Barat membuat ogoh-ogoh bertema ‘Lindungi Bali Selamatkan Bumi’. Pantung raksasa miliknya menggenggam patahan alat berat (ekskavator) di tangan kirinya, dan bumi di tangan kanannya.

Menjelang hari raya Nyepi, masyarakat Bali membuat ogoh-ogoh simbolisasi penolakan terhadap rencana proyek reklamasi Teluk Benoa

Ketika dimintai keterangan, Klian Banjar Dinas Buagan, Gede Supartha menjelaskan bahwa ogoh-ogoh tersebut memang merupakan simbolisasi menjaga bumi dari perusakan terhadap alam.

“Kami ingin menyampaikan pesan menjaga lingkungan, misalnya persoalan sampah,” ujar Supartha di rumahnya, Denpasar, Senin (07/03).

“Isu ini sudah bertahun-tahun jadi wajar saja kalau ada kesan tolak reklamasi. Memang simbol dari ogoh-ogoh ini juga termasuk aspirasi kami menolak reklamasi di Teluk Benoa,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, terkait temanya tersebut ia pernah dipanggil untuk bertemu dengan Bhabinkamtibmas dari Polsek Denpasar Barat pada Jumat (04/03) lalu.

“Ia bukan melarang ogoh-ogoh kami, tapi menyampaikan berdasarkan instruksi dari Kapolsek Denpasar Barat, kalau patahan ekskavator tersebut harus dilepas,” jelasnya.

Supartha pun diminta untuk melepas patahan ekskavator karena nantinya dapat membuat isu penolakan reklamasi Teluk Benoa semakin memanas saat parade ogoh-ogoh. Akhirnya ia pun memutuskan untuk meletakkan patahan ekskavator di kaki ogoh-ogoh dengan simbolisasi di atas tumpukan sampah plastik dan kaleng.

“Saya paham polisi punya tanggung jawab menjaga stablitas keamanan, tapi ini seni yang membawa pesan menjaga lingkungan. Menurut saya justru kalau polisi menginstruksikan melepas (patahan ekskavator) malah terkesan menutup aspirasi rakyat,” tandasnya, seperti dilansir dari Tempo.

Sementara Kapolsek Denpasar Barat Komisaris Wisnu Wardana menyatakan, imbauan tersebut merupakan tindakan preventif dari pihaknya agar perayaan Nyepi ini berlangsung lancar dan tanpa gangguan.

“Saya kira itu tidak sesuai dengan tema ogoh-ogoh yang biasanya sebagai simbol mengalahkan sifat-sifat jahat,” terangnya. (tem/nei)