Jalan menikung © www.lukmanhanz.com

Pasca putusnya jembatan Tukadaya Jembrana, kendaraan besar bermuatan mulai mencari jalur lain agar pendistribusiannya ke beberapa daerah di Bali tetap berjalan. Jalur yang banyak diminati yaitu jalur Singaraja-Gilimanuk.

Yudha Seputra selaku staf bagian administrasi Jembatan Timbang Banjarasem, Kecamatan Seririt, Buleleng memantau peningkatan volume kendaraan yang melintas mencapai 30 persen sejak dua hari ini dibandingkan hari-hari sebelumnya.

“Kalau data yang saya buat itu peningkatannya 30 persen. Lebih banyak dari Subang, Lombok, tapi kalau malam nggak begitu banyak. Kalau memang full, krodit semua di sini,” ujarnya kepada Tribunbali, Senin (25/1).

Dia menambahkan, kendaraan-kendaraan besar justru lebih memilih jalur ini karena jalur di Karangasem terhambat karena adanya penggalian pipa di jalan. Namun untuk jalur Singaraja-Denpasar via Bedugul, kendaraan besar yang melintasi jalur ini dikurangi karena banyaknya tikungan tajam dan juga curam.

Banyak kendaraan-kendaran besar yang melintas yang dipantaunya melebihi kapasitas yang sudah ditentukan. Namun ia mengaku tidak berdaya untuk menegur secara tegas terhadap kendaraan-kendaraan yang melanggar aturan. Petugas jaga pun hanya bisa memberikan imbauan kepada pengemudi yang melanggar peraturan, seperti kelebihan muatan.

Polres Buleleng saat ini telah menyiapkan tiga jalur alternatif yaitu melalui Busungbiu-Pupuan, Pancasari dan Karangasem. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bagian Operasional Polres Buleleng, Kompol Ketut Gelgel.

Dirinya menambahkan, kendaraan ringan bisa saja melintasi jalur Pancasari, Sukasada dengan jalur curam dan penuh tikungan.

“Kendaraan berat lewat Karangasem, mobil kecil dan truk sedang bisa lewat Busungbiu. Kita juga sudah memasang rambu dalam rangka pengalihan arus lalin,” tuturnya.

Untuk mengantisipasi kemaceta di jalur Singaraja-Denpasar, Desa Pancasari, Kecamatan Sukasada, Buleleng , pihaknya telah mengerahkan beberapa personelnya.

(tri/nei)