Truk Besar di jembatan © www.jabar.pojoksatu.id

Made Supriawan, Pembuat Komitmen Balai Jalan Nasional Wilayah I Bali menyatakan, tidak hanya umur yang sudah terlalu tua yang menyebabkan ambrolnya jembatan Dangin Tukadaya Kabupaten Jembrana, Sabtu (23/1), namun juga banyaknya kendaraan melebihi muatan yang melewati jalur Gilimanuk-Tabanan.

Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan terkait masalah ini, namun tetap saja kendaraan-kendaraan tersebut dapat melenggang dengan mulus.

“Jembatan yang ambrol itu karena banjir besar kemarin (Sabtu, red). Selain itu banyaknya kendaraan yang melebihi muatan melewati jembatan tersebut sangat mempengaruhi usia jembatan,” ujar Supriawan kepada Tribun Bali melalui telepon seluler (ponsel), Minggu (24/1).

Adanya timbangan muatan di wilayah Cekik, Gilimanuk juga tidak terlalu berarti karena muatan yang ditentukan tidak sesuai dengan undang-undang.

“Timbangan di Cekik, Gilimanuk, tidak sesuai aturan muatannya. Itu aturannya 10 ton tetapi yang lewat itu 40 ton sampai 60 ton,” keluhnya.

Padahal pihaknya juga terus melakukan pemeliharaan jembatan di wilayah yang dinaunginya yakni Cekik, Negara, Pekutatan, dan Tabanan. Pemeliharaan dilakukannya setiap seminggu sekali.

Kepala Balai Jalan Nasional Wilayah VIII Provinsi Bali, Made Cana juga menyatakan hal yang sama mengenai kendaraaan bermuatan yang melewati jembatan Duangin Tukadaya tersebut. Menurutnya, banyak kendaraan besar dengan beban berat yang melewati jalur tersebut mempengaruhi kekuatan dari jalan dan jembatan.

Dirinya menambahkan, banyaknya kendaraan bermuatan melebihi kapasitas yang ditentukan yang melewati jembatan akan mempengaruhi lama atau tidaknya usia jembatan. Sebaliknya, jika sedikit usia jembatan akan lebih lama.

“Semakin banyak kendaraan berat dan melebihi muatan maka semakin pendek usia jembatan tersebut,” tambahnya.

(tri/nei)