BALITODAY.NET – Masalah dalam dunia pendidikan tidak hanya pada keterbatasan sarana prasarana, tetapi juga kesejahteraan guru. Salah satu hal yang masih menjadi sorotan yakni keberadaan status guru honorer.

Setiap tahun bahkan, guru honorer meminta status pengangkatan dan lain-lain. Namun belum juga ada hasil memuaskan.

[irp]

Beragam solusipun telah dicoba diterapkan. Namun, masalah masih tetap mengalir. Hingga akhirnya pada Jumat (4/1/2019), Mendikbud Muhadjir Effendy menyatakan agar sekolah tidak mengangkat guru honorer baru lagi.

Menurutnya, jika guru honorer baru tetap diangkat, masalah akan sama saja. Belum selesai urusan guru honorer lama, sekarang malah ditambah masalah lagi dari honorer baru

Muhadjir menambahkan, lebih baik kepala sekolah mengangkat kembali guru-guru yang sudah pensiun. Sekolah diharapkan mau menunggu hingga ada pengangkatan guru lagi dari pemerintah.

“Saya minta supaya kepala sekolah tidak angkat lagi honorer. Guru yang pensiun diperpanjang saja masa baktinya. Ditarik lagi sampai ada guru pengganti yang diangkat oleh pemerintah,” tuturnya dilansir dari Kompas.com (5/1/2019).

Kemudian untuk masalah gaji, jika mengambil guru yang sudah pensiun maka gaji bisa diambilkan dari dana BOS.

“Kalau diangkat kepala sekolah nanti persoalan tidak selesai. Cukup yang pensiun. Toh rata-rata usia pensiun 60 tahun dan untuk mengabdi beberapa tahun lagi masih bisa. Gaji diambilkan dari BOS,” ujar Muhadjir.

Gaji yang diberikan nantinya masih ditambah dengan dana pensiun. Meskipun begitu, gajinya memang tetap lebih sedikit daripada waktu PNS.

“Tentu bayarannya tidak sebanyak ketika masih aktif PNS, tapi masih mendapat dana pensiun,” lanjut dia.

[irp]

Rencananya, Kemendikbud juga akan mengadakan skema pengangkatan guru honorer yang telah mengabdi di atas 10 tahun.

“Februari atau Maret ini mudah-mudahan sudah dibuka,” tutup mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini.


Penulis: Almira Sifak
Editor: Almira Sifak