© beritabali.com

Seperti tahun-tahun sebelumnya, Denpasar Film Festival (DFF) mengadakan program yang terkait dengan film dokumenter meliputi acara pelatihan, pemutaran film, pendampingan produksi, pameran, diskusi, dan lomba.

Acara diawali dengan Pelatihan Produksi Film Dokumenter yang dipandu oleh Tonny Trimarsanto, pemenang lima penghargaan internasional di bidang film dokumenter. Hal yang baru dalam pelatihan ini adalah diadakannya metode camp atau perkemahan di Tepian Danau Buyan, Tabanan.

Pelatihan diikuti 20-30 murid SMP dan SMA di Kota Denpasar yang lolos seleksi, yang mendapatkan masukan teori dan praktek lapangan tentang karya dokumenter. Peserta juga diberi kesempatan menampilkan film dokumenter yang mereka buat selama pelatihan.

Peserta juga diwajibkan membuat produksi film dokumenter tentang Kota Denpasar selepas pelatihan. Mereka mendapatkan dana stimulan untuk biaya produksi film dokumenter tentang Kota Denpasar, sesuai konsep yang mereka ajukan pada seleksi awal.

Selain pelatihan, ada pula Lomba Film Dokumenter, Lomba Resensi Film Dokumenter, Putar dan Diskusi Film Unggulan, Pameran Esai Foto, Diskusi “Air dan Kehidupan”, dan Malam Penganugerahan.

Direktur DFF, Agung Bawantara, berharap agar para peserta pelatihan dapat menangkap seluruh materi yang diberikan. “Intinya adalah edukasi, kompetisi, dan apresiasi”, terang Agung Bawantara.

Seperti dilansir beritabali.com, Lomba Film Dokumenter diadakan mulai 1 Maret hingga 30 Juni 2016 dengan mengundang pembuat film dokumenter dari seluruh Tanah Air. Lomba Resensi Film Dokumenter diselenggarakan mulai 1 Maret sampai 31 Juli 2016, dan diikuti para jurnalis di wilayah Bali.

Yang terakhir, acara pemutaran, diskusi, dan pameran foto esai diadakan pada pertengahan bulan Agustus 2016. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan acara puncak yang bernama Malam Penganugerahan pada 14 Agustus 2016. (brb/fal)