Bursa saham China kembali mengalami terkoreksi dan terjun bebas sejak perdagangan dibuka pada Rabu (8/7). Shanghai Composite Indeks hingga siang ini anjlok lebih dari 8 persen, sedangkan Shenzen Component turun hampir 5 persen.

Shanghai Composite Indeks adalah bursa saham terbesar di Republik Rakyat Tiongkok. terletak di kota Shanghai, RRT. Bursa ini didirikan pada 26 November 1990 dan mulai beroperasi pada 19 Desember 1990. Bursa saham ini merupakan organisasi nirlaba yang dikelola oleh China Securities Regulatory Commission (CSRC).

The Guardian melaporkan dalam waktu sepuluh menit perdagangan, lebih dari 1.000 saham di dua bursa China tersebut anjlok rata-rata  10 persen dan secara otomatis perdagangannya dihentikan karena terkena penolakan secara otomatis oleh sistem perdagangan saham yang dimiliki oleh BEI terhadap penawaran jual dan atau permintaan beli Efek Bersifat Ekuitas akibat dilampauinya batasan harga atau jumlah Efek Bersifat Ekuitas yang ditetapkan oleh BEI (autorejectin). Sementara, sekitar 1.400 perusahaan atau lebih dari setengah yang melantai di bursa meminta perdagangan sahamnya dihentikan guna mencegah kerugian yang lebih besar.

China Securities Finance Corporation (CSFC) mengatakan terjadi kepanikan yang irasional di pasar saham Cina menyusul aksi jual yang meningkat tajam.
Bank Rakyat China mencoba membantu otoritas bursa tersebut guna  untuk mendapatkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek. tambahan dalam upaya menstabilkan saham. Sejumlah langkah yang disiapkan seperti menyediakan pinjaman antar bank, pembiayaan hipotek dan obligasi.  Bank Rakyat China menyatakan akan terus mencermati perkembangan pasar dan terus mendukung CSFC memitigasi risiko sistematik dari kejatuhan bursa tersebut.

CNN Money melaporkan dua indeks acuan Negeri Tirai Bambu, Shanghai Composite Indeks dan Shenzen Component, masing-masing telah terkoreksi 32 persen dan 41 persen sejak Juni lalu.  Seperti yang dilansir CNNindonesia.com

Berdasarkan riset Bespoke Investment Group, kapitalisasi pasar China tergerus hingga US$ 3,25 triliun dalam satu bulan terakhir. Angka tersebut merupakan akumulasi modal yang ditarik keluar oleh investor sejak 12 Juni 2015. Nilai tersebut setara dengan total kapitalisasi pasar saham Prancis, atau sekitar 60 persen dari kapitalisasi pasar Jepang.

“Sekarang ini ada kepanikan di pasar dan marak aksi jual yang tidak masuk akal. Hal ini membuat likuiditas di pasar modal mulai kering,” kata China Securities Regulatory Commission dalam keterangan tertulis. (cnn/ind)