Ilustrasi sawah kering ©kompas.com

Puluhan hektar sawah di Desa Tohpati, Banjarangkan, Klungkung, tidak dapat ditanami tanaman produktif akibat kondisi lahan yang terlalu kering selama tiga tahun terakhir.

Kondisi tersebut sangat memprihatinkan sebab sebagian besar penduduk desa berprofesi sebagai petani. Hasilnya, mereka harus rela mata pencaharian utamanya hilang sehingga harus mencari pemasukan dari pekerjaan lain.

Seperti dilansir tribunnews.com, seorang petani Desa Tohpati, Dewa Gede Oka, berujar bahwa sekurang-kurangnya, 55 hektar dari total 75 hektar sawah di Desa Tohpati mengalami kekeringan dan tidak dapat ditanami tanaman produktif. Akibat masa paceklik ini, ia beralih profesi menjadi pencari rumput liar di sawah petak miliknya.

Keluhan serupa dialami Ni Luh Simin, seorang petani lain, yang mengatakan paceklik yang terjadi membuat musim tanam padi tidak dialami warga Desa Tohpati.

“Kondisi seperti ini kita alami sejak tiga tahun belakangan. Padahal, seharusnya saat ini disini sudah memasuki musim tanam padi,” keluhnya.

Ia menambahkan, pada dasarnya paceklik di desa ini terjadi akibat distribusi air irigasi dari Tembuku, Bangli, terhenti sejak tiga tahun lalu. Hal ini tentunya merugikan seluruh petani di desanya yang menggantungkan hidup dari lahan pertanian. (trn/fal)