BALITODAY.NET – Bali memiliki beberapa desa asli dengan adat budaya yang terus dijunjung. Namun, Desa Tenganan, Manggis, Karangasem, Bali bisa dikatakan memiliki aturan adat yang berbeda. Bedanya, Desa Tenganan tidak melakukan tradisi Nyepi maupun Ngaben.

Hal ini dirasa cukup unik. Sebab, Desa Tenganan termasuk salah satu desa asli di Bali. Penduduknya pun mayoritas beragama Hindu. Hal ini dilatarbelakangi oleh ajaran leluhur mereka yang memang tidak melakukan kedua tradisi tersebut.

[irp]

Dua hari raya umat Hindu, Galungan dan Kuningan juga tak mereka rayakan. Asal muasalnya yaitu karena desa mereka dulunya tidak terpengaruh oleh Kerajaan Majapahit.

Kendati tidak merayakan Nyepi, penduduk setempat tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Tidak ada larangan yang harus mereka patuhi.

Misalnya, selama Nyepi umat Hindu menjalani Catur Brata Penyepian. Catur Brata Penyepian mengandung empat larangan yaitu tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak menikmati keindahan atau hiburan, dan tidak bepergian.

Pada umat Hindu Desa Tenganan, Catur Brata Penyepian tidak mereka laksanakan. Hanya saja mereka tidak boleh keluar kampung supaya tidak mengganggu umat yang sedang melakukan Catur Brata Penyepian.

Tidak hanya tradisi saat Nyepi, dilansir dari Viva.co.id (31/3/2014) warga Tenganan juga tidak mengarak ogoh-ogoh saat menjelang Nyepi.

[irp]

Sedangkan untuk Ngaben, warga setempat langsung menguburkan jenazah pada hari yang sama dengan hari kematiannya dilansir dari travelingyuk (3/3/2018).

Perbedaan lain dari desa Tenganan yaitu aturan pernikahan yang diterapkan. Warga Tenganan harus menikah dengan sesama warga desa. Jika melanggar, maka keduanya harus keluar dari desa Tenganan.

Meskipun dinyatakan sebagai desa kuno asli, listrik sudah masuk ke desa ini. Warga desa juga terbuka jika ada wisatawan yang ingin mengenal seperti apa desa asli di Bali.


Penulis: Almira Sifak
Editor: Almira Sifak