Kepala Dinas Pariwisata Daerah (Kadisparda) Pemprov Bali,  A A Gede Yuniartha Putra, mengakui bahwa masalah pariwisata di Bali kali ini adalah sampah dan kemacetan.  

“Ini memang menjadi problem pariwisata kita, khususnya di Badung Selatan yang merupakan pusat pariwisata sehingga masalah kemacetan dan sampah tak terhindarkan,” katanya, Kamis (10/09).

Bahkan beberapa waktu lalu, Duta Besar Jermanmengutarakan bahwa penurunan wisman asal Jerman disebabkan masalah sampah yang menggunung di Bali, khususnya di wilayah Suwung.

Yuniartha menyebut solusi guna meretas pariwisata yang selama ini masih tumplek di Badung Selatan dengan menciptakan desa wisata.

“Kami membuat desa wisata dan akan terus dikembangkan hingga tahun 2018. Sampai sekarang jumlahnya telah mencapai 36 desa wisata yang tersebar di Bali,” katanya, seperti dilansir dari tribunnews.com.

Kesungguhan Disparda terhadap pembangunan desa wisata ini, diakuinya, diwujudkan dari pemberian dana pembinaan kepada masing-masing desa hingga Rp 23 juta dari total dana kelolaan Disparda Bali yang berjumlah Rp 4 miliar tahun 2015.

“Kami mengelola dana dari APBD Bali sebesar Rp 4 miliar tahun 2015. Plotnya terbagi untuk promosi pariwisata, desa wisata, pembinaan kepada industri wisata dan SDM pariwisata serta kegiatan lainnya,” katanya. (tri/end)