BALITODAY.NET – Akhir-akhir ini di Bali marak pemberitaan mengenai daging anjing yang diolah menjadi RW. RW atau rinteek wuuk adalah makanan dengan bahan dasar daging anjing.

Berdasarkan fakta yang beredar di masyarakat, anjing terduga rabies diperjualbelikan kepada para pedagang RW di Bali.

[irp]

Dilansir dari Radarbali.jawapos.com (5/12/2018), Dinas Pertanian Buleleng pun sudah mengatahui praktik pengolahan RW ini. Sayangnya, petugas belum dapat menelusuri jejak siapa saja yang sudah mengonsumsi RW dari anjing rabies ini.

Mengenai hal ini, Dinas Pertanian Buleleng menyatakan sudah berkali-kali menyosialisasikan kepada masyarakat bahwa anjing bukan produk pangan.

“Ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat. Kami harap masyarakat bisa paham tidak mengonsumsi anjing. Kami sudah berkali-kali sosialisasi, memberi pemahaman bahwa anjing itu bukan produk pangan,” ujar Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Dinas Pertanian Buleleng, drh. I Wayan Susila.

Untuk peluang konsumen tertular rabies dikatakannya sangat kecil. Sebab, virus rabies bisa mati ketika dipanaskan pada suhu sekitar 70°C.

“Secara teknis, peluang virus rabies menular lewat makanan sangat kecil. Apabila daging anjing dimasak dengan baik, kemudian dipanaskan hingga 70 derajat, maka virusnya akan mati. Namun masih ada peluang bila daging dimasak setengah matang,” tegasnya.

[irp]

Susila menyatakan bahwa yang lebih beresiko tertular rabies adalah orang yang mengolah daging anjing terinfeksi rabies. Pasalnya virus rabies banyak ditemukan di air liur dan otak anjing.

Ditambah jika sang pengolah memiliki luka terbuka, virus rabies sangat menulari. Mekanisme penularannya melalui luka terbuka kemudian menyebar ke syaraf manusia tersebut.

“Kalau yang mengolah ini punya luka terbuka, virus itu bisa masuk lewat luka itu kemudian menyebar ke jaringan syaraf. Potensi itu ada, tapi kecil,” jelasnya.


Penulis: Almira Sifak
Editor: Almira Sifak