Ilustrasi Karaoke © beritakabar.com

Hampir semua hotel dan restoran serta tempat hiburan seperti karaoke di Pulau Bali diklaim telah melanggar karya cipta lagu oleh Karya Cipta Indonesia (KCI). Tempat–tempat tersebut telah melanggar peraturan tersebut selama puluhan tahun.

“Sejak 25 tahun berdiri sudah banyak menemukan pelanggaran di Bali dalam sepuluh tahun terakhir. Seharusnya lesensi hak cipta ini hanya dikeluarkan oleh KCI karena baru 25% yang memenuhi aturan ini sisanya masih melanggar undang-undang,” jelas Pendiri dan Pembina KCI, Enteng Tanamal di Denpasar, Selasa  (01/03).

Ia menambahkan, seharusnya tidak ada keberatan dalam pembayarak karya cipta tersebut, karena terifnya pun tergolong msih rendah. Satu hotel bintang empat saja diperkirakan cukup membayar Rp12 juta setahun, sehingga cukup membayar Rp1 juta per bulan.

Persoalan ini pun membuat Ketua Umum KCI Dharma Oratmangun bersama Kordinator KCI pewakilan Bali Yoan Tanamal dan General Manager KCI Tina Sopacua yang didampingi Wakil Ketua Kadin Bali Komang Purnama sengaja bertemu Kadin dan PHRI Bali. Pertemuan tersebut ditujukan untuk membahas pelanggaran hak cipta tersebut.

“Mereka menggunakan karya cipta ini tanpa izin. Diperkirakan diatas 95% hotel dan retoran maupun tempat hiburan di Bali belum membayar hak cipta. KCI membantu agar industri pariwisata tidak melanggar hak cipta. Apalagi mendekati MEA agar iklim pariwisata tidak bercitra buruk,” terangnya, seperti dikutip Berita Bali.

Tempat-tempat yang melanggar hak cipta dapat dikenakan sanksi perdata ataupun pidana dengan denda sebesar Rp5 miliar disertai ancaman penjara maksimal empat tahun untuk pelanggaran satu hak cipta. (ber/nei)