Galungan berasal dari kata Ngegalung adalah Bahasa Jawa Kuno yang bermakna berbahagia atau bersenang-senang; untuk memperingati turunnya kemakmuran ke jagat ini atau Kasukertan jagat; hari raya Galungan diperingati atas keberhasilannya Maharaja Bali Dhalem Shri Aji Kusunu, dalam upaya menangani musibah yang menerpa jagat Saka Dwipa.

Sebelumnya jagat ini mengalami bencana kelaparan dan umur manusia sangat pendek-pendek; sehingga Maharaja melaksanakan Tapa-Brata-semadi di telenging Gunung Udaya Parwata sekarang Gunung Agung dan beliau mendapat sabda dari Bhatari Tolangkir ‘ untuk mendapatkan kemakmuran dan kerahayuan, supaya Maharaja melaksanakan upacara galungan kehadapan Bhuta – Hita  ‘seisi jagat semesta’. “lontar Lebur Gentur”, uapacara ini disanggupi oleh Maharaja, sehingga wilayah kekuasaan baginda mencapai “Negara Kang Tata Titi Tentram Kerta Raharja Gemah Ripah Loh Jinawi; hari raya ini pertama kali dilaksanakan pada hari Buddha Keliwon Dungulan
 tahun saka 804 atau 881 masehi.

 Untuk menyambut hari raya ini dilaksanakan terlebih dahulu upacara yang disebut Tumpek yaitu 60 hari sebelum Galungan dibuat Upacara Tumpek Landep yang bermakna landeping hidep artinya ketajaman pikiran, 25 hari sebelum Galungan dibuat upacara Tumpek Uduh-Pengatag-Wariga yaitu untuk mengupacarai bhuta-hita atau tumbuh-tumbuhan, setiap upacara menghaturkan bubur kepada tanaman dengan berkata “Kaki-Kaki, Nini-Nini, niki bubur seantukan biyin selai lemeng pacing galungan mangda mebuah ngeed-ngeed-ngeed” yang artinya kakek-kakek dan nenek-nenen, ini saya menghaturkan bubur, sebab lagi 25 hari ada upacara Galungan supaya mau berbuah lebat.

Dan tujuh hari sebelum Galungan dilaksanakan Upacara Sugihan manik atau tenten artinya mengupacarai isi dari bhuawana agung dan bhuwana alit, dilanjutkan besuknya sugihan Menak yang bermakna kemulyaan diri, dilanjutkan dengan Sugihan Wali yaitu mengupacara jagat semesta bhuwana agung,
 berselang dua hari berikutnya dilaksanakan upacara penyekeban atau ngekeb buah-buahan yang dipakai sarana upacara Galungan; setelah ini dilaksanakan upacara penyajan adalah membuat beraneka macan jajan untuk persiapan upacara, dan sehari sebelum Galungan disebut upacara Penampahan yaitu memotong hewan untuk sarana upakara, setelah itu memasang penjor; sehabis memasang penjor baru pada hari Buddha keliwon Dungulan dilaksanakan upacara Galungan dengan menghaturkan sesaji kehadapan Sanghyang Widhi atas anugrahnya memberikan kesejahtraan kepada manusia di jagat ini.

Sehabus upacara Galungan disebut Manis Galungan pada hari ini melakukan keunjungan ke sanak pamili dengan menyampaikan ucapan Rahayu-Rahayu-Rahayu Mamahayuning Bhawana’ dan dimulainya hari pemujaan kepada leluhur sampai pada hari kuningan yaitu selama Sembilan hari yang disebut Nawami Pitra Puja. Kuningan juga simbul dari Kemakmuran yang disimbulkan dengn warna kuning emas, pada hari ini
 menghaturkan tumpeng kuning kehadapan leluhur supaya beliau selalu memberikan kemakmuran kepada leluhurnya. Kesimpulan Hari Raya ini bukanlah kemenangan Dharma melawan Adharma tetapi Turunnya Kesukertan Jagat, marilah makna upacara ini dimaknai dengan sebuah kedamaian bukan dengan peperangan; Mayadanawantaka adalah sebuah ceritra yang dibuat seolah-olah mendekati hari Galungan yang digubah pada abad ke 16, jauh sesudah hari Galungan dilaksanakan. (ind)