© harisistanto.wordpress.com

Pada Jumat (12/02), sebanyak sembilan pesawat berada di atas langit Pulau Bali yang ditunjukkan dari Radar milik Air Navigation Indonesia Cabang Denpasar.

Suasana ruangan AirNav Cabang Denpasar di Bandara I Gusti Ngurah Rai sejenak kaku saat dua anggota DPD RI melakukan kunjungan paska-berita nyaris terjadinya tabrakan dua pesawat Lion Air  JT 960 dan Garuda Indonesia GA -340.

Dua anggota DPD itu, Ketua Komite 2 DPD RI, Perlindungan Purba dan Kadek Arimbawea alias Lolak. Setelah melakukan pengecekan ke ruangan tersebut, Perlindungan Purba mengatakan bahwa kabar dua pesawat nyaris tabrakan adalah tidak benar.

AirNav Cabang Denpasar menjelaskan, bahwa keduanya berada di titik poin holding Kuta ketika hujan deras. Sebanyak 24 pesawat di atas langit sedang menunggu giliran mendarat di Bandara Ngurah Rai Bali.

“Jarak ketinggian ada sekitar 700 feet. Karena standar internasional 1.000 feet, maka alarm pesawat berbunyi. Tapi bukan alarm penumpang. Yang berbunyi hanya alarm pilot saja,” ungkap Perlindungan Purba, seperti dikutip Tribun Bali.

Seusai sidak ke ruangan AirNav Cabang Denpasar, kedua anggota DPD melakukan pertemuan dengan para petinggi AirNav Denpasar. Beberapa keluhan pun disampaikan pihak AirNav.

GM AirNav Denpasar, Maskon Humawan mengeluhkan beberapa kendala yang selalu muncul saat penerbangan terganggu cuaca, hujan dan badai. Salah satunya adalah holding time pesawat karena saking padatnya lalu lintas.Bahkan ungkap Maskon, setidaknya ada 20 pesawat berlalulalang dalam satu jam di Bandara Ngurah Rai.

“Kondisi tersebut bisa juga mengalami penambahan lalulintas saat kondisi darurat atau pesawat khusus yang jumlah maksimum pergerakannya sebanyak 25 pesawat per jam. Langkah ini sudah masuk kategori over kapasitas. Baik appron, runway, atau pergerakan pesawat di udara. Apalagi waktu hujan deras Rabu (09/02) lalu, ada 24 pesawat di atas langit untuk holding,” terangnya.

Kendati demikian, masyarakat tidak perlu khawatir dengan pergerakan pesawat karena dipastikan keadaan dijamin aman. Kemanannya pun telah masuk kategori standar internasional.

“Tidak betul kalau mau terjadi tabrakan. Tapi kita masih selidiki kenapa kok jarak ketinggian pesawat berada di bawah 1.000 feet. Apakah komunikasinya kurang cepat atau terkendala, atau ada masalah lain,” jelas Maskon. (tri/nei)