© bamboofoundation.blogspot.com
Petani Bambu di Desa Taro, Kecamatan Tegallalang, Kabupaten Gianyar Bali tak lagi gigit jari. Dana Desa yang dimanfaatkan untuk membangun jalan usaha tani ini, telah menyulap harga komoditi bambu naik hingga lima kali lipat.
“Sebelumnya harga bambu hanya Rp1.000 per batang. Sekarang sudah naik Rp4.000-Rp5.000 per batang,” ungkap Madirupa, Pendamping Lokal Desa (PLD) Desa Taro.
Madi mengatakan, sulitnya akses petani dalam memobilisasi hasil panen berdampak pada tingginya biaya transportasi. Akibatnya, harga bambu di Desa Taro dibandrol dengan harga yang sangat rendah. Namun sekarang, petani tak lagi kesulitan karena dana desa Tahun 2015 telah dimanfaatkan untuk membangun jalan sebagai akses menuju perkebunan tersebut.
“Tahun 2015, Desa Taro mendapatkan dana desa sebesar Rp332 juta. Sebagian besar digunakan untuk membangun jalan usaha tani. Selain menguntungkan para petani, peternak juga diuntungkan karena kalau mau nyabit rumput jalannya sudah bagus. Seniman-seniman yang mau mencari kayu juga lebih dipermudah,” ujarnya.
Tidak hanya itu, dana desa Tahun 2015 juga dimanfaatkan Desa Taro untuk mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Uniknya,  BUMDes yang dipilih adalah pengelolaan Bank Sampah. Sehingga selain meningkatkan perekonomian desa, BUMDes juga memberikan efek positif bagi kebersihan lingkungan.
“BUMDes sudah berjalan sejak awal tahun ini (2016). Kita sudah dirikan bangunan untuk Bank Sampah, berikut dengan mobil pick up untuk kendaraan operasional. Melalui BUMDes ini, kita mencoba mengubah sampah menjadi hal yang bernilai. Setiap dua kali seminggu, sampah-sampah non organik warga kita kumpulkan lalu dijual,” ujarnya.
Menurut Madi, realisasi dana desa di Taro melibatkan seluruh elemen masyarakat. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasan. Berbagai bentuk sosialisasi dilakukan, untuk mendorong keterlibatan aktif masyarakat setempat.
“Dana desa direalisasikan melalui musyawarah desa. Semua dilibatkan termasuk ibu-ibu PKK (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga). Bahkan sosialisasi juga kita lakukan melalui spanduk-spanduk,” ungkapnya.
Di sisi lain, Desa Taro memiliki potensi wisata yang cukup besar. Keberadaan Pura Gunung Rawung (Pura Agung) di wilayah Banjar Taro Kaja misalnya, memiliki keterkaitan dengan kedatangan Rsi Markandeya ke Bali dalam periode kedua.
“Dengan adanya Pura ini, Desa Taro bisa dijadikan sebagai lokasi wisata religi. Selain itu, Desa Taro juga punya taman wisata gajah, lembu putih, dan hutan dengan jalur trekking yang bagus. Misi kita ke depan, ingin menjadikan desa ini menjadi desa wisata. Untuk itu, infrastrukturnya kita perbaiki dulu,” ujarnya.
Untuk Tahun 2016 Desa Taro mendapatkan dana desa sebesar Rp788 juta. Rencananya, dana desa ini akan digunakan untuk membangun infrastruktur berupa jalan desa, jalan usaha tani dan jalan lingkungan. (prl/nei)