© eni.news24online.com

Pelaksanaan Earth Hour di Bali yang jatuh pada 19 Maret 2016 pukul 20.30-21.30 WITA diprediksi mampu menurunkan konsumsi listrik hingga 41 Mega Watt (MW). Informasi tersebut disampaikan oleh PT. Perusahaan Listrik Negara (PLN) Distribusi Bali.

Partisipasi masyarakat dalam aksi Earth Hour ini ditunjukkan dengan mematikan lampu dan alat elektronik yang tidak dibutuhkan selama 60 menit. Dengan aksi ini, diharapkan jumlah emisi dari penggunaan listrik dapat dikurangi. Emisi inilah yang da[at menyebabkan perubahan iklim.

“Pada tahun sebelumnya, kami mencatat ada penurunan konsumsi listrik sebesar 5% atau setara 36 MW saat Earth Hour, sehingga tahun ini kami prediksi penurunan konsumsi listrik hingga 41 MW,” terang Humas PLN Distribusi Bali Melva Yumawati, di Denpasar, Sabtu (19/03).

Ia menjelaskan bahwa saat ini beban puncak di Bali pada 2016 mencapai 822 MW. Dengan Earth Hour tentu akan menurunkan konsumsi listrik saat beban puncak.

Di Pulau Bali sendiri, perayaan Earth Hour dipusatkan di Patung Catur Muka, Puputan, Kota Denpasar.

“Penurunan beban listrik Bali selama Earth Hour 2016 tentu kembali kepada kepedulian masyarakat untuk ikut mematikan alat elektronik selama satu jam,” jelasnya, seperti dikutip dari Tribun Bali.

Di Patung Catur Muka, Denpasar, aksi Earth Hour diisi dengan kegiatan kampanye jalanan, pengenalan komunitas, pameran energi terbarukan, dan berbagai acara hiburan. (tri/nei)